Gangguan Bipolar... Berbahayakah?





Beberapa waktu belakangan ini kita sering mendengar media memberitakan gangguan kejiwaan yang diduga menyerang seorang mantan artis cilik, yakni gangguan bipolar. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan gangguan bipolar, berbahayakah gangguan tersebut?

Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Agung Kusumawardhani, SpKJ, mendefinisikan gangguan bipolar (bipolar disorder) sebagai gangguan pada perasaan seseorang akibat masalah di otak, ditandai dengan perpindahan (swing) mood, pikiran dan perubahan perilaku yang dramatis dari episode manic dan episode depresi :
  •  Episode mania (kebahagiaan dan antusiasme yang ekstrim), ditandai dengan kondisi mood yang sangat meningkat (hipertimik). Gejalanya mencakup berpikir dengan cepat, cerewet, sangat antusias dan memiliki energi ekstra sekalipun sudah berhari-hari tidak tidur. Mania tidak dapat melihat bahaya yang dapat timbul, karenanya mereka sering bertindak ekstrim dan menimbulkan problem serius.
  • Episode depresi (kesedihan dan pesimisme yang ekstrim), ditandai dengan mood yang sangat menurun (hipotimik). Selama fase depresi, penderita mungkin dihantui oleh gagasan untuk bunuh diri.
  • Di antara kedua episode tersebut terdapat mood yang tidak normal (eutimik).
Istilah bipolar merujuk pada kondisi pasien yang mengalami perpindahan mood antara dua kutub atau spektrum emosi yang berlawanan tersebut. Seseorang dengan gangguan bipolar tidak pernah berada dalam kondisi mental yang stabil.


Gangguan bipolar adalah bunglonnya gangguan kejiwaan, mengubah tampilan gejalanya dari satu pasien ke pasien lain, dan dari satu episode ke episode lain bahkan pada pasien yang sama.
 dr. Francis Mark Mondimore, Fakultas Kedokteran-Jhons Hopkins University
 

Diagnosis gangguan bipolar biasanya dilakukan berdasarkan serentetan gejala yang terlihat selama suatu jangka waktu tertentu.
Apa saja faktor penyebab gangguan bipolar?
Meski belum ada yang mendefinisikannya secara jelas, namun beberapa faktor ini diduga kuat sebagai pemicu gangguan bipolar :
  1. Faktor genetik (keturunan). Menurut beberapa kajian ilmiah, anggota keluarga dekat dari penderita depresi bipolar lebih cenderung mengalami penyakit ini 8 hingga 18 kali daripada anggota keluarga dekat dari orang yang sehat (Ikatan Dokter Amerika).
  2. Faktor depresi, yang dipicu oleh stresor psikososial misalnya pertengkaran, perceraian dan kehilangan orang yang dicintai.
 
Gangguan ini sangat berbahaya dan menyiksa penderitanya, karena gangguan ini bersifat berulang dan berlangsung seumur hidup. Penderita gangguan bipolar tidak bisa sembuh total, tetapi dengan perawatan dan pengobatan yang tepat, gangguan ini dapat dikendalikan dan risiko bunuh diri dapat ditekan, sehingga kualitas hidup penderita dapat diperbaiki (Dr. AA Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), Kepala Departemen Psikiatri RSCM).

Menderita gangguan bipolar bukanlah akhir dari segalanya. Penderita bipolar dianjurkan untuk berkonsultasi untuk mengelola kehidupannya, mengubah kebiasaan serta belajar membuat pilihan yang cerdas, sehingga dapat menjaga suasana hati dan sikap hidup, misalnya :
  • Mengatasi berbagai gangguan dan stimulasi lingkungan yang memicu terjadi gangguan.
  • Lebih rileks dan terhindari stress, hal ini dapat dilakukan dengan manajemen stress dan mencoba teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam.
  •  Membuat pilihan yang sehat; makan dan berolahraga teratur serta menjaga jadwal tidur yang teratur sangat penting untuk menjaga suasana hati.
  • Melacak gejala peruban suasana hati sendiri, sehingga penderita dapat mencegah masalah sebelum dimulai.
  • Mengonsumsi suplemen yang dapat menjaga tubuh tetap rileks dan siap menghadapi stress.
Tips di atas tentu saja tidak hanya berlaku bagi penderita bipolar, tapi juga bagi Anda yang ingin memiliki kehidupan yang lebih rileks dan tenang.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beberapa Dampak Negatif Game PUBG

Langsing, Cantik Dan Sehat Dengan Berpuasa

Yuk Menghitung Kebutuhan Kalori Harian